Dengus sekarat dan seringai buas kemenangan.
Juli 2, 2007
![]()
(Hanya sekedar tulisan geram).
Sumber dan inspirasi : Sebuah film mini DV milik seorang kawan, Kompas cyber media, Sinar Harapan.co.id, Wikipedia.org, beberapa buah blog lainnya, dll.
Setelah musuh atau sosok yg dianggapnya musuh itu mulai terkulai lemas dan roboh, Lelaki ganteng yg berpakaian keren itu menyeringai penuh kepuasan. sementara sosok yg dijadikannya musuh itu adalah tak lain sesosok mahluk ciptaan Tuhan yg memang diciptakan tdk disertai dgn akal yg sebaik manusia bejat buas tadi. hanya mengandalkan insting sebuah bentuk pikiran binatang yg tak berdaya.
Adegan haus darah tsb bukan berada dalam cerita hantu atau film horor ataupun bentuk2 cerita fiksi seram lainnya. Adegan hot tsb terjadi dalam Dunia nyata, dan masih berlangsung hingga hari ini.
Di Spanyol, sekitar 24.000 ekor banteng di bunuh dgn keji setiap tahunnya. dibunuh dgn sadis di hadapan ribuan penonton (temasuk Kanak2 dan Wanita) hanya utk sebuah pesta tarian setan sebuah kematian yg dipaksakan dgn ketidak adilan.
Mereka menyebut dirinya dgn sebutan bullfighter, dan saya menyebutnya dgn bullshit. Banteng yg telah dilukai sedikit itu (utk membuatnya marah) dilepaskan ke dlm arena kematiannya. semetara para matador (yg berarti pembunuh) mengibar2-kan sebuah kain bendera berwarna merah (atau sejenis merah) yg membuat si banteng menyerang kain tsb.
Kain yg dipegang dgn kedua tangan Torero tadi (Toreador dlm english) spt membuat pikiran banteng tadi semakin marah, dan berkonsentrasi menyerang pada warna merah tadi. sebuah kebodohan alami yg dimanfaatkan oleh para pembunuh sadis tsb, menjadi sebuah kematian yg menggenaskan.
Olahraga ini berasal dari Yunani. namun Yunani sendiri telah lama menghentikannya, dikarenakan olahraga ini sangatlah tidak berperikebinatangan manusiawi.
Di Spain, olahraga tsb (pantaskah ini disebut sbg olahraga ????) malah dijadikan sebagai sebuah olahraga nasional. (Fiesta National).
Dan Negara ini, dgn olahraga sadisnya itu mampu mendatangkan 20 juta wisatawan pertahun, utk orang2 atau wisatawan yg penasaran akan hal tsb.
Pertandingan puluhan Manusia buas melawan seekor banteng. (terdiri dari torero yg menjadi matador sbg pembunuh sadis yg diterjemahkan menjadi Hero, Novilladas atau petarung pemula/junior, rejoneadores atau petarung yg berada di atas kuda). binatang malang itu di tusuk2 dgn pedang, tombak atau kayu dgn ujung besi runcing sedemikian rupa, sehingga si banteng semakin sekarat berlumuran darah. semakin lemah dan akhirnya ……… Sementara penonton2-nya berteriak2 memberikan tepuk tangan dan pujian2 kepada para biadab tsb.
Anehnya lagi2, kelicikan dan pengeroyokan manusia2 yg terlihat jelas dan tak ditutup2-i itu menjadi hal yg seolah2 memang harus terjadi. aneh… malahan dielu2-kan sebagai pahlawan.
kemudian contohnya lagi, ketika seorang “manusia” terkena serempetan banteng yg terluka tsb, langsung sekawanan yg menganggap dirinya “manusia” lainnya datang menyelamatkan nyawanya. ada yg menarik perhatian si banteng dgn kain merah, ada yg berteriak2, ada yg langsung mendatangi dan melukainya, sementara sekawanan “manusia” yg lainnya lagi menyeret atau memapah temannya yg terluka tersebut keluar arena.
Sedangkan si Banteng malang tsb? tak ada yang menyelamatkannya dari keroyokan.
seandainya dia tertancap pedangpun, siapa yg akan menyeretnya ke luar arena ???
Di Portugal kabarnya lebih tak adil lagi. Banteng yg dipaksa bertarung tsb ternyata telah di potong atau dibuntungi kedua ujung tanduknya. bah….. seekor banteng tanpa tanduk yg bodoh melawan puluhan manusia yg bersenjata.
Bagaimana seandainya ini terjadi di Negara kita ? haruskah kita bergabung dgn penonton2 tsb dan kemudian membiarkan diri berubah menjadi sebuah jiwa barbar yg bertepuk tangan dan berteriak kesenangan melihat pembantaian tak adil di depan mata? atau menantang para bullshit itu bertarung satu persatu dgn pedang yg sama panjang dan sama tajam ? atau apa ??
Entry Filed under: Lingkungan, Save This Earth !, Sekilas perasaan. .
26 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed















1.
santribuntet | Juli 3, 2007 at 4:02 pm
ujung2nya duit bukan mas… bukankah dengan melukai binatang menghasilan devisa yang luar biasa… lagi pula, setelah dilukai, binatang itu bisa disate, didendeng dan didedel doel pun masih bisa dimakan. Benar2 bulshit…
tapi bisa jadi di negara kita pun ada semacam matador. Misalnya politikus… kita (rakyat) di suruh memilih dengan bendera merah, hijauh, kuning, putih dll… setelah kita di kibas2in dengan bendera itu, lalu kita kecele….
2.
chiw imudz | Juli 3, 2007 at 4:50 pm
hidup pecinta binatang!!!
btw,OOT neh : knapa banteng kok taunya warna merah aja?apa dia buta warna sebagian???
3.
deking | Juli 3, 2007 at 4:54 pm
Sebenarnya kalau pertandingan dilakukan secara adil sih OK2 saja, maksudnya ketika si manusia
pembunuhitu dihajar banteng maka biarkan saja. Jangan ada manusia2 lain yang menolong si manusiapembunuhitu biar merasakan hal yang sama dengan para banteng.Tapi kalau dipikir2 gimana manusia tidak kejam sama binatang, lha mereka sendiri sangat suka berbuat kejam terhadap manusia lain.
Mungkin benar juga istilah “homo homini lupus”
manusia adalah serigala bagi manusia lain
4.
chiw imudz | Juli 3, 2007 at 5:23 pm
*masi mikir knapa banteng suka warna merah*
hmm…apa ini ya salah satu latar belakang banteng & warna ini dijadiin maskot salah satu
mantanparte besar di negara kita5.
erander | Juli 4, 2007 at 2:02 am
Manusia memiliki dua sisi kehidupan. Sisi kebaikan (kelembutan) dan kejahatan (kekerasan). Tinggal pilih mau yang mana. Oleh karena itu, “agama” diperlukan untuk lebih mengarahkan manusia pada kebaikan (kelembutan).
6.
nesia | Juli 4, 2007 at 5:10 am
sy suka semua yang berbau española. kecuali nyang ini. Gurrrghhh!!!
Dia ngga tau kali, di “kehidupan” berikutnya bisa saja dia diciptakan jadi banteng.
7.
telmark | Juli 4, 2007 at 1:24 pm
@santribuntet
iya juga ya… kita dikibas2-in bendera berwarna, kemudian setelah kita seruduk, ternyata hasilnya kita kecele. berarti kita sama dgn banteng ya?
thanks.
@chiw imudz
memang benar, dia jadi lambang salah satu parte. banteng atau kerbau dilambangkan besar, kuat dan berani. tetapi dia juga terkadang dilambangkan sbg binatang bodoh. trims.
@deking
homo homini lupus mungkin memang kenyataan mas deking. (termasuk blogger ?)
saya juga setuju kalau pertandingan berjalan adil. spt misalnya 10 ekor banteng melawan 10 matador, dan adil kalau masing2 tanpa alat bantu apapun. thanks.
@erander
betul, Agama memang sebagai pembimbing kita. saya setuju dgn kata mengarahkan manusia pada kebaikan. (kelembutan).
tetapi sebagian “garis keras” tokoh Agama, terkadang bercerita bukan ttng kelembutannya, melainkan kekerasan dan halal2-an darah semata. sebaiknya mereka diadu ama banteng aja ya ?
thanks.
@nesia
iya, dan bantengnya diciptakan menjadi manusia yg membalas dendam.
eh, kehidupan berikutnya di alam lain kan Bang ? (Abang bukan percaya reinkarnasi kan ?)
trims.
8.
chielicious | Juli 5, 2007 at 4:52 am
Aku muak sama hal2 kayak gini.. apalagi yag jadi korban hewan yang gak bersalah.. emang salah apa si banteng ampe harus di siksa kayak gitu.. klo semua manusia kayak mereka2 itu lebih baik aku minggat ke hutan ..jadi tarjan persi perempuan ^^;
9.
may | Juli 5, 2007 at 11:23 am
well, i thought mang dah takdirnya binatang untuk dimanfaatkan(dimanfaatkan loh buikan dieksplorasi habis-habisan) bagi kepentingan manusia. Tentunya sesuai dengan prikemanusiaan dan pri kebinatangan.
Nice blog, lam kenal mas
10.
telmark | Juli 5, 2007 at 1:05 pm
@chielicious
itulah manusia, bangga akan ketidak adilannya.
jadi tarjan cw-nya kaya si Jane ? syaratnya harus bisa gelatungan di akar gantung.
thanks.
@may
dan takdir manusia juga utk “dimanfaatkan” oleh golongan penggoda, agar berlaku sadis thp hewan, tumbuhan, bahkan thp sesama.
trims and salam kenal kembali.
11.
peyek | Juli 5, 2007 at 3:48 pm
wah… berarti kalo dinegeri kita jauh lebih tidak beradab, lha kita bisa saling bunuh sesama, saling bunuh hak yang lain demi kepuasan diri.
12.
anas | Juli 5, 2007 at 5:18 pm
Pembantaian seperti ini memang selalu terjadi di dunia ini mas. Nggak perduli entah itu orang apa bianatang, pokoke ‘yang lemah adalah yang kalah’
13.
telmark | Juli 6, 2007 at 10:35 am
@peyek
tapi yg jelas mas peyek, itu sebenarnya bukan takdir. hanya masih bnyk Orang bodoh yg dgn mudah bisa diadu domba. (dan tentu saja masih banyak Orang serakah yg suka mengadu domba. yg ini takdir ?). thanks.
@anas
itu memang sudah hukum alam. tapi, setiap hukum tentu saja ada jalannya kan ? trims.
14.
chiw imudz | Juli 6, 2007 at 10:44 am
makanya mas…
bangga sama negara ndiri aja…
nggak hanya di spanyol, di negara kita aja juga ada praktik semacam itu.Bedanya mugnkin dari ukuran korban yang relatif lebih kecil. Tapi, sekecil apapun mereka (baca:ayam) bukan berarti layak untuk diadu demi uang dan kepuasan pengadu…
15.
Suluh | Juli 8, 2007 at 1:53 am
ah saya kadang juga suka liat aduan… tapi terkadang juga miris…
16.
cakmoki | Juli 8, 2007 at 4:05 am
Seremmm … mungkin dorongan menyiksa dan membunuh dalam diri manusia itu sangat kuat ya ? Contoh lain kalo kita digigit semut merah, kontan si semut dipencet, diinjek sampai penyet …
@ chiw imudz,
karena kalo dikibari bendera hijau ntar dikira daun pembungkus lemper …
bantengnya gak jadi marah, malah ngunyah, hahaha *jo nesu*
17.
telmark | Juli 8, 2007 at 12:56 pm
@chiw imudz
sekecil apapun mereka (baca:ayam) bukan berarti layak untuk diadu demi uang dan kepuasan pengadu… (Setuju 100%).
apa mereka termasuk golongan yg tdk percaya karma dan hukum pembalasan ya ?
trims.
@Suluh
miris memang. bagaimanapun, mahluk hidup tetap merasakan sedih dan sakit.
trims.
@cakmoki
itu artinya dorongan menyiksa bahkan terlihat dlm kehidupan sehari2 ya cak?! menyedihkan ya…
thanks.
18.
ABU DOANK | Juli 8, 2007 at 2:39 pm
wak somad juga lagi diadu ama salafy
ga tau siapa yg menang
ka ka ka ka
19.
telmark | Juli 9, 2007 at 10:42 am
@ABU DOANK
thanks.
iya wak, saya juga liat. blog salafy memang maunya terus2-an debat. ngerasa bener sendiri. maju terus wak.
20.
st. of darkness | Juli 10, 2007 at 12:40 pm
berita basi pun bisa jadi saksi…….!
cK…cK…cK…!
21.
telmark | Juli 11, 2007 at 10:47 am
ceritanya basi. tapi kejadiannya baru. terekam lewat sebuah handycam. seharusnya anda melihat semua tulisan dgn teliti, sebelum komen.
eh, orang sakit juga bisa komen ?
cK…cK…cK…!
22.
Ferry | Juli 13, 2007 at 8:08 am
Klo gicu si matadornya kasih tanduk aza, jangan kasih pedang biar adil he… he…
23.
telmark | Juli 14, 2007 at 11:45 am
@Ferry
setujuuuu….
biar diadu antar kepalanya ya ?
thanks.
24.
venus | Juli 28, 2007 at 12:27 am
beberapa taun yg lalu saya baca liputan ttg ‘olahraga’ ini di majalah femina. wartawatinya nangis, karena katanya, di detik2 terakhir sebelum roboh ke tanah, si banteng memandang wajah sang matador dengan tatapan yang amat sangat menyayat hati dan meneteskan air mata. kemudian, dengan diiiringi sorak sorai penonton dan seringai puas “sang pahlawan”, banteng itupun jatuh. mati. dasar barbar!!! aarrgggghhhhhh…..
25.
mrlekig | Juli 30, 2007 at 7:59 am
dibanding dengan pertarungan Sabung Ayam (atau di Bali dinamakan Tajen), hal ini jauh lebih kejam..
Saya awalnya pernah menonton hal seperti ini, tapi baru tersadar setelah membaca postingan ini.
Hidup pecinta binatang..
26.
telmark | Agustus 2, 2007 at 4:53 pm
@venus
betul mbak, barbar banget. sayapun kesal sekali sewaktu menyaksikan tayangan film mini dv milik seorang kawan yg baru aja pulang dari sana. barbar dan tdk adil.
trims.
@mrlekig
sabung ayampun termasuk tdk berperi kebinatangan. tapi masih ada adilnya (dikit), karena 1 lawan 1.
thanks.