Sedikit oleh2 buat Anak Bangsa [+t]

Pulang ke Indonesia, setelah sekian lamanya bekerja di Jepang, adalah suatu kegembiraan yang tak terlukiskan. Demikian juga dengan Saya dan Istri.
Dan dikarenakan segala macam perhitungan kami mengenai jarak bandara dari kota kami, kami memutuskan untuk menaiki penerbangan dari bandara Okayama, bandara terdekat dari hongo kuko. [ Hongo, Hiroshima airtport yang Perusahaan penerbangannya terbatas sekali ].

Sialnya, di Okayama juga tidak terdapat Perusahaan Penerbangan seperti Garuda IA atau Sq [ pen. singapore ], yang kami dapat dari travel agennya cumen penerbangan Asiana airlines. [ Pen. Korea Selatan ] tapi itupun Okelah, wong harganyapun tidaklah terlalu mahal, dibanding Hongo yang cumen terdapat Penerbangan China.

Hari H telah tiba. pesawat take off dengan tepat waktu. [ bandingkan penerbangan dalam Negri yang tujuan Jakarta – Bangka yang pernah saya naiki, ngaretnya sampe 2 jam 15 menit. ] di Perusahaan Asiana air, kami diwajibkan transit di bandara baru, Incheon [ Bandara International Korea Selatan ] yang dulunya bernama Kimpo, selama 6 jam. itupun oke, dari pada kami harus transit di atas awan hayo ?

Di Incheon, walaupun kami hanya transit dari Jepang kami mengalami pemeriksaan ketat banget, sebelum memasuki ruangan utama, dimana terdapat pertokoan duty free dan gate2 tempat berbagai penerbangan tersebut. aneh memang. diperiksa lagi, padahal kami atau Orang2 lainnya tak keluar dari area bandara sama sekali.

Apesnya lagi, saya sampai berulang-ulang harus melewati pemeriksaan tersebut. sekali melangkah langsung berbunyi tuh detector sialan. yang pertama tentu saja ikat pinggang. Kepalanya itu tentu saja terbuat dari metal, dan saya disuruhnya mencopot barang itu. eh, masih bunyi juga ? terpaksa lepas sepatu [ sepatunyapun langsung diperikasin ama petugas yang lain ]. Mereka sampe memakai tambahan 2 detector tangan buat meriksa badan saya. masih bunyi juga!  jaket terpaksa saya loloskan. beuhhh, masih bunyi juga, apalagi sih ? ternyata dompet dan uang recehan termasuk korek zippo atau tempat rokoknyapun harus dituangkan kedalam keranjang yang telah disediakan.

Berakhir ? Belum juga… kaos tangan panjang dan blue jeans saya rupanya mengandung kancing2 yang terbuat dari bahan metal yang agak besar. ini apa2-an sih ? apa saya harus telanjang supaya bisa lolos dari pemeriksaan laknak tersebut ? akhirnya mereka memeriksa dengan meraba pake tangan atau meyakinkan tdk adanya barang2 yang dicurigai dalam tubuh saya. bah… sekali lagi bah.

Usai pemeriksaan tsb, sebelum saya benar2 selesai memakai perlengkapan saya lagi, para staff airtport tersebut meminta maaf atas ketidaknyamanan tsb. apalagi yang bisa dikatakan selain it’s ok ? sayapun dalam hati memakluminya. pemeriksaan terhadap orang2 asing, bahkan warga Negaranya sendiri itu tentu saja di sebabkan, oleh tak lain Perang dingin antara Negara mereka dan tetangganya, Kore Utara.

Bukan main bandara satu ini. ngalih2 ngingetin kami ama canggi, walaupun di Incheon tdk semuanya terbentang karpet tebal, tapi semuanya tertata cukup rapi [ bandingkan dengan malaysia, yang pusing 7 keliling nyariin smoking arenya ]. di inheon, nyariin apa aja, akan kita dapati dengan mudahnya. dari hotel dalam ruang bandara tsb, sampai merk LV, hermes atau Channel dapat kita jumpai dengan mudah. merek2 elektronik Jepangpun cukup banyak disini, selain tentunya, merek dalam Negeri mereka sendiri spt Samsung, misalnya.

Lagi asyik2-nya ngeliatin pameran mobil sport di bandara tsb, saya seperti mendengar Orang2 yang berkomentar dalam Bahasa kita. Orang Indonesia, bukan Malaysia atau Negara tetangga lainnya, saya sangat yakin sekali. soalnya ada kata2 seperti Gua-Elo dalam bicara mereka.

Setelah bertegur sapa dan berkenalan, saya dan Istri akhirnya mengetahui, kalau rombongan anak muda itu adalah rombongan anak trainingan dari [ katanya ] Dept. tenaga kerja kita, yang bekerja di Korsel, dengan masa kontrak kerja 3 tahun. dan setelah masa kerja mereka habis, mereka akan digantikan oleh rombongan baru, dengan masa kontrak yang sama, dan terus begitu. apa ini, yang katanya termasuk pendapatan terbesar Negara kita, dan dimasukan katagori Non migas ?? yang saya tahu, mereka adalah Orang2 yang kurang beruntung di Negaranya sendiri, sehingga harus melawan pepatah : Hujan batu di Negri sendiri, adalah lebih baik daripada hujan emas di Negri orang.

Walaupun mendapat seat yang berjauhan, rombongan itu ternyata satu pesawat dengan kami. namun jelas, obrolan tidak bisa diteruskan selama dalam perjalanan tersebut.

Singkat cerita, pesawat telah mendarat di bandara tercinta, Soekarno-Hatta. sewaktu saya berhadapan dengan sekat keimigrasian, Seorang petugas Imigrasi yang membubuhkan stempel di passport saya sempat berkata : “Udah lama kerja di Jepang ya ? wah, udah banyak duitnya dong ? ada dong sedikit buat kami ?” Saya hanya mencoba tersenyum.

Apa hubungannya dengan dia ? Mereka yang sedemikian beruntungnya bisa bekerja di Tanah Air sendiri, dan menjadi Petugas Imigrasi yang terhormat, masih pula mencoba berceloteh meminta jatah yang bukan bagiannya. dan untungnya, mungkin dikarenakan antrian yang memanjang, Petugas Imigrasi [ Departemen Kehakiman ] tersebut tidak mencoba memperpanjang “todongan” tersebut. mungkin pula dilihatnya saya yang mencerminkan sikap tidak mau memberikan toleransi terhadap kekonyolan tersebut. anggap saja saya sudah memberinya oleh2 dari Negri lain : Menempatkan sesuatu pada tempatnya dengan benar.

Selagi menunggu bagasi saya, rombongan Anak muda tadi terlihat melambaikan tangannya kepada kami. “Mas kami duluan yaaa”, “Ati2 Mas diperjalanan” demikian kata2 mereka yang masih teringat sampai sekarang oleh saya. Sayapun membalas lambaian tangan mereka, dan membalas perkataan mereka. “Iyaa, kalianpun ati2 dijalan. awas dompet, banyak copet sekarang2 ini”. [ ini bukan basa-basi lagi, emang kenyataannya para copet yang berkuasa dijalanan ]

Menunggu adalah pekerjaan yang menyebalkan. demikian juga dengan kami berdua. rasanya lama sekali menunggu jemputan yang katanya terlambat karena macet. belum lagi tukang2 taksi atau taksi2 gelap yang menyewakan mobilnya, yang tak henti2-nya mendatangi kami, dan menawarkan jasa mereka dengan nyerocosnya. [ mereka tidak bisa sekali dibilangin, bahwa kami sedang menunggu jemputan, dan terus berbicara, bahwa jasa mereka adalah yang termurah ]. jelas menyalahi kepercayaan The silent is Gold, ditengah panasnya bandara tersebut.

Selagi asyik menghirup cola di restoran mc donald di bandara tersebut, kami melihat segerombolan anak muda tadi berjalan menghampiri kami. saya merasa aneh. bukannya mereka yang duluan keluar sebelum kami berdua ?
“Mas engga kena ya ?” tanya salah satu dari mereka. kena apaan ??? pertanyaan mereka kok jadi semakin misterius.

Ternyata, mereka semua sempat ditahan, [ quarantine/karantina ] dan ini [ katanya ] selalu dialami oleh setiap kepulangan anak2 Trainingan dari Korea, [ bagaimana dengan trainingan di Negara lainnya ? ] mengalami sedikit PEMERASAN oleh pihak2 tertentu [ dengan meminjam kata2 bagi oleh2 atau mana dong oleh2-nya, atau langsung barang ini kami sita, tapi bisa lewat kalau anda menebusnya ] di bandara tersebut. Mereka dimintai uang oleh oknum2 tersebut, yang jumlahnya mereka tidak mau sebut. salah satu contoh dari obrolan singkat tersebut adalah seorang anak yang gara2 membawa sebuah Elektonik [ sebuah power, kalau melihat bentuknya sih ] dalam tentengannya, di takut-takuti secara hukum. entah itu katanya terkena cukai, atau barang yg tdk boleh masuk atau bla bla bla….. yang ujung2-nya, harus rela melepaskan sedikit uang untuk Bapak2 staff di bandara terhormat tersebut.

Saya tdk bisa membayangkan… Sekelompok anak, yang tdk mendapat keberuntungan bekerja di Negrinya sendiri, dan rela bekerja sebagai pekerja kasar di Negara lainnya, harus mendapati kenyataan : rindu mereka yang tertahan selama 3 tahun akan tanah Negrinya disambut pertama kali oleh sebuah kebejatan.

saya tak mau tunjuk hidung orang, disamping sulitnya bukti untuk kasus2 rahasia umum spt ini. kalau saya salah, tolong diperbaiki/ralat.

Pos ini dipublikasikan di Tanda Tanya. Tandai permalink.

11 Balasan ke Sedikit oleh2 buat Anak Bangsa [+t]

  1. fulan berkata:

    Oknum? … istilah kita bukan pemerasan mas, yaahh “bagi oleh-oleh” gitu….
    Makanya kita sulit maju hehehe🙂

  2. telmark berkata:

    Iya, bahasa lembutnya memang begitu kira2. tapi kenyataannya kan sama. thanks.🙂

  3. helgeduelbek berkata:

    Haduhhh mas tulisane panjang amat. Tapi asyik sih mbacanya, kalo bisa kasih jarak antar paragrafnya yah, biar tambah enak mbacanya. Siiiip dah

  4. telmark berkata:

    waduh makasih buat masukannya, mas Helgeduelbek, segera saya ubah se-soon mungkin. thanks.

  5. Mbah Keman berkata:

    MAs tekmark, kalau mau sebutkan sesuatu jangan ragu-ragu.. itu korupsi namanya..langsung ajan , petugak bandara, cecunguk-cecunguk bea cukai, kewan perwakilan sekarat dll,,, nanti mereka merasa tidak salah wong oknum kok,, nama mereka kan bukan oknum OK,

  6. telmark berkata:

    Iya Mbah… mereka bisa berlindung di balik nama oknum. kalo gitu kita sebut aja cecunguk2 bea cukai. setujuuuu. maaf lama jawabnya, saya baru aja sampe kesini lagi. makasih buat comentnya ya Mbah.

  7. faiq berkata:

    Kok ternyata anda juga punya pengalaman yang sama saat melewati imigrasi di Soekarno Hatta…. Sayapun pernah ditodong dengan kata2 “Bagi saya dong, oleh-olehnya??”.
    Keprihatinan yang sama saya rasakan juga, ketika melihat saudara-saudara lain para TKI yang tak bisa menolak diperlakukan seperti ini.

  8. telmark berkata:

    wah, ternyata kita punya pengalaman yg sama ya, pak ? penyakit cecunguk2 bandara, kabarnya masih sama spt dulu pak. kapan benarnya ya bangsa kita ? kasihan para TKI…😦 thanks.

  9. bakazero berkata:

    wah, ada petugas malak yah?
    tapi halus hehe…
    ngeri euy…

  10. ERNAWATI berkata:

    Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah melahirkan dengan operasi sesar sehingga bayi tidak perlu bersentuhan dengan organ genital ibu yang sudah terinfeksi.

  11. Work with people who believe in your dreams They will be encouraging you when fail

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s