Pohon-pohon bambu.

*penjelasan ada dibawah tulisan ini*
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Pohon pohon bambu. (baca dgn hati)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Suara nurani.

segalanya masih disini. hidupku masih menemuimu di hari2 yg lalu. dan hari2 esok tak pernah tiba, sekalipun aku mencoba.

Dlm pagi. cerah senyum cahaya seolah memaksaku segera terbiasa. dimulainya sebuah hari adalah guru terbaik ajaran2 dasar keagungan tentang kemanusian.

Aku tahu. hari ini, aku kan kembali melihat dosa. senyum munafik manusia yg menggelimang menjilat, atau penjajahan diri sendiri untuk diperbudak kebodohan gaya hidup.

Padamu, sebenarnya, pagi, aku gentar. karena aku bagian dari keheningan. dimana lagu mengalun menenteramkan pada temaram. atau bunyi2-an hewan malam yg berkejar canda.

Dalam malam, terkadang lebih banyak kukerjakan gerakan. dimana inspirasiku melayang-layang diantara awan dan bulan. lalu merasa berada dalam desiran dinginnya, sebuah kenyataan ttg luka. dan menyaksikan dengkuran2 kesedihan manusia sisi jalanan yg bermimpi, namun terbentur menemui perih.

Selagi aku melangkah dalam pagimu, aku bertemu beberapa lelaki. seorang, daripadanya, berapi meneriakkan dan memaki politikus2 hitam yg dianggapnya titisan iblis. memakan sebanyak2-nya harta rakyat, lalu berpura dan mengenakan tutup muka dari kulit bayi. sebuah topeng akan kesempurnaan dunia yg tak perduli.

Ingin aku bertanya, mengapa sepagi ini dimulainya sengketa? tapi aku salah bertanya. bahkan ketika siang mulai jelas berhawa, aku telah terbuang dalam gurun es, ditengah keangkuhan bumi yg semakin menua. dan mereka menyebutnya modernisasi.

Tidakkah Dia marah ? melihat manusia berteriak mengacungkan tingginya emosi yg dipadu dgn pikiran dan bergaya akademis ? ilmu yang Dia sisipkan dalam misteri, bahkan belum habis dipelajari. takkan pernah habis…

Dipenghujung jalan, aku bertemu beberapa wanita. kecantikan mereka mengingatkan aku akan hijaunya pucuk kerumunan daun2 teh. gelak tawa mereka seperti canda tujuh bidadari yg berlarian di altar rerumputan, dan suara merdu mereka seperti gemerisik rungkunan pohon bambu yang tertiup angin sepoi2.

Melihat senyum mereka, anehnya seperti desis ular dileher para penari yang mempertontonkan kegairahan. dengan aksesoris bebatuan dari dunia jauh yg sebenarnya digali dengan pedihnya sisi keterpaksaan dari sebuah kemiskinan. aku tak mengerti. kecantikan mereka mengingatkanku justru pada bayangan masa jahiliah dahulu. sebuah kesia2-an tentang kecantikan yang salah diterjemahkan.

*tak terasa, senja tiba mendahului. tulisan ini hanya suara nurani, yg memang ingin dituliskan hari ini.*

Cahaya kemerahan

Dibalik bukit itu aku menunggu keindahan. sesuatu yg tak bisa terkatakan. diantara cahaya memerah dan sinar terang keemasan, membias diantara awan2 yg termangu.

Sebenarnya, kucari dari semua kebodohan ini adalah cahaya cintanya. ketika perlahan meredup, seperti kelopak mata seorang peri yg terbaring di sebuah peraduan dari bulu2 angsa. segalanya mengingatkan aku akan pandangan sesorang. dari tahun yg lama terpendam.

Telah banyak kulalui, debu2 dikota yg telah semakin menipis hatinya. aku ingin kembali, seperti temaram itu…. tak merasa, dan tak dilahirkan. sehingga tak pula perlu merasakan kesedihan.

Untuk kesekian kalinya, selamat jalan kembali, cahaya abadi, untuk hari ini. aku kan kembali memandangmu dilain hari, jika aku masih beraga. biarlah semangatmu yg menyinari, tetap hidup dihati. aku ingin sepertimu, yg tak meminta apa2 dari semesta. melahap sebanyak-banyaknya tugas yg diemban, kemudian perlahan bersembunyi.

Senja kemerahan telah berakhir. lampu2 jalanan mulai berkuasa, dimana keindahan malam di sebuah kota adalah sosok terselubung sebuah angkara.

(pohon2 bambu, tulisan ke1 dan ke2).

************************************************************************

Tulisan ini tadinya sempat dipostingkan di Telanjang.wp. (memuat tulisan2 saya yg bertemakan kesastraan) tapi, beberapa orang rekan yg saya hormati menyarankan agar telanjang.wp di hapus, atau dibekukan, dikarenakan alasan tertentu. akhirnya, seminggu semenjak tgl hari ini. selasa, pukul 0.08, tgl 19 juni-2007, blog ini menyatakan tdk lagi bertanggung jawab atas telanjang.wp, blog yg baru seumuran pentil jagung. terima kasih buat yg sempat datang dan komen disana.

*************************************************************************

Pos ini dipublikasikan di Pelangi di violet., puisi. Tandai permalink.

10 Balasan ke Pohon-pohon bambu.

  1. peyek berkata:

    wah sayang, kenapa telanjang.wp dihapus ya? saya belum sempat kesana menikmati kesastraan, memang apanya yang salah?

  2. elpalimbani berkata:

    Heeh, sayang…kenapa telanjang.wp dihapus. Saya juga blom sempat ngintip.😦
    Pasti aduhai. rggrrh….🙂

    But, it’s ok! toh baca postingan ini saja saya sudah mulai terbuai dengan pesona sastramu. Hmm….cantik.😉

  3. telmark berkata:

    @peyek
    ada beberapa tulisan yg terpaksa dihapus mas peyek. tapi posting ini adalah yg pertama tampil di telanjang.wp. tak ada yg salah, hanya tentang salah persepsi antara arti telanjang badan, dgn telanjang hati sesungguhnya. 🙂 trims.

    @elpalimbani
    wah suka sastra juga ya ? thanks utk pujiannya.

  4. elpalimbani berkata:

    Saya suka setiap keindahan tanpa kecuali. Apalagi pas diintip so touch….gitu😉

  5. cakmoki berkata:

    beberapa quote menarik perhatian saya, akhirnya pilih yag ini:

    ketika perlahan meredup, seperti kelopak mata seorang peri yg terbaring di sebuah peraduan dari bulu2 angsa. segalanya mengingatkan aku akan pandangan sesorang. dari tahun yg lama terpendam.

    hmmm … banyak makna di dalamnya *penasaran*

    Btw, saya juga belum sempat baca telanjang lho, telanjang raga belum tentu salah, misalnya pas mandi, hehehe

  6. antobilang berkata:

    waw…serasa membaca karya masterpiece…
    keren keren..
    buat blog lagi aja bang, yang khusus sastera..

  7. telmark berkata:

    @elpalimbani
    iya, sama. sama2 suka yg so touch, menyentuh sampai bagian…….
    🙂 thanks.

    @cakmoki
    iya cak Dokter, tdk telanjang pas mandi kan jadinya aneh ya ?! 🙂 eh, cak Dokter suka sastra juga ? trims.

    @antobilang
    welcome back. kemana aja sih ?
    tadinya di telanjang.wp, nto. lain kali saya buat yg betul2 khusus. thanks.

  8. roffi berkata:

    panjang juga artikelnya.. karya sastra yang bagus

  9. telmark berkata:

    @roffi
    thanks….🙂

  10. venus berkata:

    kereeeeeennnn….*tepuk tangan paling kenceng*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s