Konvensi Bali. Tulisan ke 2.

cop13_logo_100unfccc-bali1.jpglogounfccc1.gif

Sumber dan Inspirasi : UNFCCC, MNC jp, Gatra, Tempo dan semua sumber yg membantu. 

(Maaf, tdk di ijinkan berkomentar di posting khusus konvensi ini).

Indonesia cukup menunjukan antusiasnya terhadap REDD, padahal disaat yg sama Indonesia memiliki masalah yg lebih parah dari serius. yaitu lebih dari 77.000.000 hektar Hutan kita dlm 50 th terahir ini, menjadi gundul akibat pembalakan liar.

Sikap memalukan antusias ini, tentu saja dikarenakan Indonesia  yg masih merasa memiliki hutan tropis terbesar ke2 setelah hutan2 di Brazil. walaupun akhirnya menjadi sebuah dilema. bagaimana kita  bisa aktif disini, tanpa membereskan terlebih dahulu permasalan2 yg ada di negara kita sendiri.

Sorotan dan Pertanyaan2 seputar masalah Indonesia sendiri, sebetulnya cukup membuat repot. karena semuanya adalah sebuah kenyataan memalukan yg memang semestinya tak pernah terjadi sedemikian lamanya.

Menteri Negara lingkungan Hidup yg juga Presiden dari KTT perubahan iklim di Bali, Rachmat Witoelar, mendapatkan pertanyaan2 seputar bobroknya pemeliharaan hutan kita di hari2 pertama KTT, dari media asing, LSM, dan beberapa pihak lainnya.

Witoelar menjawab bahwa, pertama, kita masih berusaha mengatasi masalah tsb. nah justru dgn REDD ini, kita bisa mengharapkan sebuah konpensasi, yg akan diberikan kepada siapapun yg berinisiatif menanam pohon. karena menurut witular, penebangan liar terjadi karena masyrakat tak mempunyai pilihan lain dlm mencari nafkah.  sementara utk cukong kayu besar, Menteri Negara mengatakan, bahwa mereka harus ditangkap. dan Indonesia sedang berusaha kearah sana.

Hal ini juga yg menjadi perhatian dari para LSM dan KPA Indonesia yg berkumpul di Bali, utk mengikuti jalannya peristiwa penting tsb ini.  mereka mengharapkan Indonesia mampu memberikan komitmen kepada Dunia, bahwa kita memang serius dalam menghadapi masalah penebangan2 liar tsb. 

Kemudian, tentang peran serta Negara2 besar, mengutip dari sekertaris eksekutif KTT ini, bahwa KTT ini memang diharapkan harus bisa  menghasilkan komitmen yg jelas pada masa sekarang dan pada masa yg mendatang.

Dalam komitmen masa sekarang, yaitu tentang apa yg kita kerjakan sampai dgn th. 2012 yg termaktub dlm Kyoto Protokol. Komitmen tsb sangat penting karena dlm Kyoto Protokol tsb, kita bisa mengharapkan Negara2 maju atau negara2 Industri sebagai penghasil Emisi terbesar mau menurunkan minimal 5 % s/d 2012. Dalam komitmen masa yg akan datang akan dibicaran ttg soal Pasca 2012.

Sampai sejauh ini, bagi saya, hanya ada satu hal yg menggembirakan.   Yaitu pernyataan ketua delegasi Australia yg mengatakan bahwa PM Australia yg baru, Kevin Rudd akan meratifikasi Protokol Kyoto. satu hal yg tidak pernah dilakukan oleh PM sebelumnya, Jhon Howard.   Langkah PM Rudd menandatangani instrumen ratifikasi Protokol Kyoto itu menjadi pembuka jalan bagi Australia menjadi anggota penuh Protokol Kyoto, sebelum akhir Maret 2008.  (peraturan PBB, ratifikasi Protokol Kyoto baru berlaku 3 bulan/90 hari setelah instrumen ratifikasi diterima PBB).

Sedangkan Amrik, masih tetap keukeuh alis keras kepala dgn tdk mau mengikuti jejak Australia utk Meratifikasi protokol tsb.  Sikap tersebut dikatakan wakil kepala delegasi Amerika Serikat dalam Konferensi Bali, Dr. Harlan L. Watson.

{ up date : Namun Watson mengemukakan komitmen Amerika untuk mendukung negosiasi dan penyusunan Peta Jalan Bali (Bali Roadmap). Peta kerangka rezim perubahan iklim global pasca – periode pertama – Protokol Kyoto 2012. } 

 Amrik, menurut Organisasi International emision asosiation,  adalah penghasil emisi terbesar di Dunia. dan utk saat ini, mereka adalah satu2-nya negara maju yg tdk mau meratifikasi Protokol Kyoto.  Bayangkan, setiap penduduk Amerika menghasilkan 20,6 ton emisi karbon/tahunnya. padahal rata-rata per kapita dunia adalah 0,5 ton/tahunnya.   kepala batu…..

Sekitar 200 pakar iklim dari 20 negara, saat meluncurkan Deklarasi Bali 2007 , mendesak para perunding di Konferensi PBB di Bali (UNFCCC) agar segera mencapai kesepakatan memangkas emisi gas rumah kaca global, sekitar 50 persen (bahkan sampai 60%) dari data tahun 1990, pada tahun 2050 nanti.

Dari naskah deklarasi , para ahli iklim mengatakan, bahwa dalam jangka panjang,  konsentrasi gas rumah kaca perlu diturunkan pada tingkat aman dan stabil, yaitu di bawah 450 ppm (bagian per juta, diukur dalam konsentrasi setara CO2).

Dituliskan dalam deklarasi tsb, jumlah konsentrasi karbon dioksida di atmosfir dunia sekarang sudah sangat parah dan terus meningkat dgn sangat cepat karena ulah Manusia.

Naskah itu menyatakan emisi global harus menurun setelah memuncak dalam 10 sampai 15 tahun mendatang,  deklarasi itu disusun di bawah naungan Pusat Riset Perubahan Iklim di Universitas New South Wales di Sydney, Australia.

udah dulu . besok disambung lg. pusing….

Sorry, tapi No Comment di Posting ini.  Kalau mo protes, silahkan di halaman Ttg Blog gw.

Pos ini dipublikasikan di Lingkungan, Save This Earth !. Tandai permalink.